Rabu, 24 Oktober 2012

FIKIH PAKAIAN


PAKAIAN
Pengertian pakaian.

      Secara bahasa : Ibnul Mandzur dalam “Lisanul Arab” berkata :

اللباس  : ما يلبس من

Apa-apa yang dipakai itu adalah pakaian”.[1] Pengertian ini juga disebutkan didalam Kamus Al Munjid.
[2]

      Secara Istilah  : Ibnu Abbas berkata ketika menafsirkan Surat Al-A’rof ayat 31:
اللباس وهو ما يواري السوأة وما سوا ذلك من جيد البز و المتاع
Pakaian itu adalah sesuatu yang menutupi aurot dan yang selainnya berupa kain yang bagus dan perhiasan.”[3]

Disyareatkannya berpakaian.
            Allah berfirman :
            قل من حرم زينة الله التي أخرج لعباده
            Katakanlah siapa mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di turunkannya untuk hamba-hambanya. [4]
            Dari Ja’far bin Mughiroh dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ia berkata: Adalah orang-orang Quraisy thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang, sambil bersiul dan bertepuk tangan, maka Allah menurunkan ayat ini.[5]
            Allah berfirman :
            با بني آدم خذوا زينتكم عند كل مسجد
            Hai anak Adam, pakailah pakainmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. (QS. Al.A’rof : 31)
            Ibnu Abbas mengatakan bahwa kebiasaan laki-laki Quraisy adalah melakukan thawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang, maka Allah menyuruh mereka untuk berpakaian.[6]
عن المسوار بن مخرمة قال : اقبلت بحجر احمله ثقيل و علي إزار خفيف قال فانحل إزاري زمعي الحجر لم استطع أن اضعه حاى بلغت به الى موضعه فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ارجع إلى ثوبك فخذه ولا تمشوا عراة
Dari Mishwar bin Makhromah, ia berkata : Aku membawa batu yang berat, sedangkan aku memakai pakaian yang ringan. Ia berkata : Kemudian kainku terurai, sedangkan aku membawa batu yang tidak bisa aku letakkan, hingga aku meletakkannya pada tempatnya. Maka Rosulullah bersabda :“ Kembalilah ke tempat pakaianmu (yang terurai) kemudian pakailah! dan janganlah kalian berjalan dalam keadaan telanjang. [7]
            Imam Nawawi berkata : “Hadits ini menunjukkan larangan yang mengharamkan berjalan dalam keadaan telanjang ( membuka aurat ).”[8]
            Demikian dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mensyari’atkan kepada kita untuk berpakaian dan larangan untuk membuka aurat.
            Adapun dalam keadaan sendiri, Imam Nawawi berkata: “Bolehnya seseorang membuka auratnya pada tempat-tempat yang harus membuka aurat dalam keadaan sendiri, seperti: waktu mandi, buang air, dan waktu jima’ (bersetubuh) dengan istri. Namun apabila ada orang lain, maka haram baginya untuk menyingkap auratnya. Para Ulama berkata: “Menutup aurat dengan kain atau selainnya ketika mandi dalam keadaan sendiri lebih utama dari pada telanjang. Sedangkan telanjang (membuka aurat) di bolehkan sebatas kebutuhan pada waktu mandi, jika lebih dari itu maka ia adalah haram, menurut pendapat yang paling shohih. Sebagaimana telah kami jelaskan, bahwa menutup aurat dalam keadaan sendiri adalah wajib hukumnya, menurut pendapat yang paling shohih. Kecuali sebatas kebutuhan (qodrul hajah).[9]
            Adapun batas-batas aurat, Imam Nawawi berkata: “Adapun seorang laki-laki yang melihat mahromnya (yang wanita) dan sebaliknya, maka yang di perbolehkan adalah apa yang berada di atas pusar dan di bawah lutut. Dan ada yang berpendapat, tidak halal kecuali pada tempat-tempat yang tampak ketika bekerja. Adapun batas aurat terhadap yang bukan mahrom, maka laki-laki terhadap laki-laki ialah apa yang berada di atas pusar dan di bawah lutut, dan begitu pula wanita terhadap wanita. Namun di sana (bagi wanita) ada tiga pendapat menurut sebagian shahabat-shahabat kami:
             pertama “pusar dan lutut bukan aurat”,
            kedua “pusar dan lutut adalah aurat”,
            ketiga “pusar adalah aurat tetapi lutut bukanlah aurat”.
            Adapun laki-laki terhadap wanita asing (yang bukan mahrom), maka harom baginya untuk melihat seluruh bagian dari tubuh wanita tersebut, dan sebaliknya wanita haram melihat seluruh bagian laki-laki yang bukan mahrom, apakah dengan syahwat atau pun tidak. Dan juga diharamkan bagi laki-laki untuk melihat Pemuda Amrod, bila ia memiliki wajah yang cantik, apakah dengan syahwat atau pun tidak, baik aman dari fitnah maupun tidak. Inilah pendapat yang shohih dan yang di pegang oleh para Ulama’ Muhaqiqin atas nash yang di pegang oleh Imam Syafi’I dan para Shahabatnya yang Alim, semoga Allah merahmati mereka.[10]
            Pemuda Amrod ialah: “ Seorang anak muda tampan yang belum tumbuh jenggotnya, yang hampir mencapai usia akil baligh.
            Dari Abu Hurairoh, ia berkata :Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melarang seorang lelaki memandang tajam anak lelaki yang masih Amrod.
            Ibnu Abi Al. Shoib berkata : Pasti aku masih lebih takut kepada seorang pemuda amrod dari pada tujuh puluh anak gadis yang masih perawan.
            Sufyan Ats. Tsauri berkata : Ada satu Syaiton yang senantiasa mendampingi seorang gadis, namun yang senantiasa mendampingi seorang pemuda Amrod adalah dua Syaiton. Oleh karena itu, aku lebih takut berhadapan dengan dua Syaiton.
            Abu Manshur bin Abdul Qohir bin Thohir berkata :Barang siapa yang bergaul dengan pemuda Amrod (tampan), maka dia akan terjerumus dalam bencana dan mala petaka.[11] 

Kriteria pakaian laki-laki muslim
            Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitab Majmu’ Rosa’ilit Taujihat Al Islamiyah menyebutkan beberapa kriteria pakaian laki-laki seorang muslim.

  • Bersih dan suci.
      Allah berfirman :
وثيابك فطهر
      Dan pakaianmu bersihkanlah.” [12]
Ibnu Katsier berkata: “Cucilah pakaian itu dengan air dan sucikanlah jiwamu dan perbaikilah amalanmu.”
  • Disunnahkan berbentuk gamis. Gamis adalah pakaian yang panjang hingga setengah betis.
Dari Ummu Salamah ia berkata :
كان أحب الثياب الى رسول الله صلى الله عليه و سلم القميص
“Pakaian yang paling  dicintai oleh Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallamadalah pakaian  berbentuk gamis[13]
  • Tidak isbal
Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
ما أسفل من الكعبين من الإزار في النار
      Apa-apa yang melebihi mata kaki dari pakaian maka ia bagian dari neraka.”[14]

            Dari Abi Said Al-Khudry ia berkata : Saya telah mendengar Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : Kain pakaian seorang mukmin itu hingga setengah betisnya, dan tidak ada dosa atasnya bila berada antara tengah betis hingga kedua mata kakinya, dan apa-apa yang melebhi mata kaki, maka ia bagian dari neraka. Abu Said berkata : Rosulullah mengucapkanya sebanyak tiga kali, kemudian bersabda : “Dan Allah pada hari kiamat tidak melihat kepada orang yang mengulurkan pakaiannya dibawah mata kaki dengan sombong”. [15]
            Dari Abdullah bin Umar ia berkata : Aku melewati Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sedangkan kain pakaianku mengulur kebawah mata kaki. Maka beliau bersabda :“ Wahai Abdullah angkatlah kainmu“, maka aku mengangkatnya, kemudian beliau bersabda:“ Tambahkanlah “, maka aku terus menaikkannya, hingga sebagian orang bertanya, hingga mana? maka Abdullah bin Umar menjawab  “ Hingga setengah betis.” [16]
            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Panjangnya ghomis, sirwal dan seluruh pakaian, hendaklah ia tidak memanjangkannya hingga dibawah mata kaki. Sebagaimana telah tetap hadits dari Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam :
الاسبال فى السراويل والازار والقميص
            Isbal itu dalam sirwal, izar dan ghomis.
            Beliau berkata : Hadits ini menunjukkan larangan terhadap isbal.[17]
            Imam Nawawi berkata: “Isbal itu dalam kain, ghamis, imamah (sorban) dan pakaian. Seorang muslim tidak boleh memanjangkannya hingga di bawah mata kaki dengan sombong. Bila tidak dengan sombong maka hal itu adalah makruh. Dan Sunnah memanjangkannya hingga setengah betis, dan boleh hingga mata kaki, dan apa-apa yang melebihi kedua mata kaki maka hal ini di larang”.[18]
            Ibnu Hajar berkata:“ Kesimpulannya bahwa bagi seorang laki-laki ada dua alternatif, pertama keadaan yang disunnahkan yaitu memendekkan kainnya hingga setengah betis dan kedua keadaan diperbolehkan yaitu memanjangkan kainnya hingga kedua mata kaki.”[19]
            Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “ Dapat dipahami dari perkataan Ibnu Hajar ini bahwasanya memanjangkan kain dan yang semisal dengan itu  dari pakaian, sirwal dan bantol hingga dibawah mata kaki tidak diperbolehkan.[20]
·         Di sunnahkan berwarna putih.

Dari Samroh bin Jundab, bahwasanya Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
البثوا الثياب البيض فإنها أطهر و أطيب وكفنوا فيها موتاكم
Artinya : Kenakanlah pakaian yang berwarna putih, karena ia lebih suci dan lebih baik. Dan kafanilah dengannya orang-orang yang meninggal diantara kalian. [21]
·         Tidak menyerupai pakaian wanita.
     
            Dari Ibnu Abbas, ia berkata :
لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم المتسبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال
Artinya : Rosulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki. [22]
·         Tidak Tasyabbuh dengan orang-orang kafir.

Rosulullah bersabda :
من تشبه بقوم فهو منهم
Artinya : Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka.[23]
·         Bukan pakaian kemegahan.

Rosulullah bersabda :
من لبس ثوب شهرة في الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة
Artinya: Barang siapa yang memakai pakaian kemegahan di dunia, maka Allah akan memakaikan kepada pakaian kehinaan di akhirat. .[24]

Kriteria pakaian wanita muslimah

1.      Menutup seluruh badan, selain yang di kecualikan.

Allah berfirman :
قل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمورهن على جيوبهن .....
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “ Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) nampak dari pada nya. [25].
Allah berfirman :
ياأيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورا رحيما
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuannmu dan istri-istri orang mukmin :“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [26]
Ibnu Katsir berkata : Maksudnya mereka tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya kepada orang-orang ajnabi (yang bukan mahromnya), kecuali bagian yang tidak mungkin mereka sembunyikan. Ibnu Mas’ud berkata : Seperti misalnya selendang dan pakaian, yaitu : “ Tutup kepala yang biasa di kenakan oleh wanita Arab dan pakaian bawah yang biasa mereka tampakkan, maka itu tidak mengapa mereka tampakkan, karena tidak mungkin mereka sembunyikan.[27]
Para Ulama Salaf dari kalangan Sahabat dan Tabi’in berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat : “Kecuali yang biasa tampak” :
·         Ibnu Abbas berkata : Yang dimaksud adalah wajah, telapak tangan dan cincin.
·         Adz-Dzuhri berkata :  Yang dimaksud adalah cincin dan gelang.
·         Imam Ibnu Zaid berkata : Yang dimaksud adalah: celak, inai dan cincin.
·         Adh Dhahhak berkata : Yang dimaksud adalah: telapak tangan dan wajah.
·         Hasan Al-Bashri berkata : Yang dimaksud adalah : wajah dan pakaian luar.
Imam Ath Thobari berkata : “Yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah: wajah dan kedua telapak tangan, dan termasuk di dalamnya celak, cincin, gelang dan inai.[28]

2.      Tidak untuk berhias

Allah berfirman :
وقرن في بيوتكن ولا تبرجن تبرج الجهلية الأولى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyyah dahulu; [29].
Rosulullah bersabda :
ثلاثة لا تسأل عنهم : رجل فارق الجماعة وعصى إمامهم ومات عاصيا و أمة أو عبد أبق فمات و إمرأة غاب عنها زوجها قد كفاها مؤونة الدنيا فتبرجت بعده فلا تسأل عنهم
Ada tiga golongan manusia yang tidak ditanya (karena mereka sudah pasti termasuk orang-orang yang celaka). Pertama “Seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah dan mendurhakai imamnya, dan meniggal dalam kedurhakaannya”. Kedua “Seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri meninggalkan tuannya, lalu dia mati “. Ketiga “ Seorang wanita ketika di tinggal pergi oleh suaminya, dimana telah mencukupi kebutuhan duniawinya, namun  ketika suaminya tidak ada) dia bertabarruj. [30]
            Tabarruj adalah perbuatan wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala hal yang seharusnya ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat laki-laki.
            Jadi, maksud perintah mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutup perhiasan wanita. Dengan demikian, maka tidaklah masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias, sebagaimana yang sering kita temukan.
            Berkaitan dengan ini, Imam Adz-Dzahabi berkata: “Diantara perbuatan yang menyebabkan akan mendapatkan laknat Allah adalah: menampakkan perhiasan emas dan mutiara yang berada dibalik niqab (tutup kepalanya), memakai berbagai wangi-wangian, seperti, “misk, anbar dan thib ketika keluar rumah”, memakai berbagai kain yang dicelup, memakai pakaian sutera, memanjangkan baju (secara berlebih-lebihan) dan melebarkan serta memanjangkan lengannya (juga secara berlebih-lebihan). Semuanya itu adalah termasuk tabarruj yang dibenci oleh Allah, yang pelakunya mendapatkan murka Allah di dunia dan di akhirat.[31]
            Imam Al-Alusi berkata : “Selanjutnya menurut hemat saya, yang termasuk dalam katagori perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan adalah pakaian yang biasa di pakai oleh kebanyakan kaum wanita untuk bermewah-mewahan di zaman kita sekarang ini, yang di tutupkan di atas pakaian biasanya yang dipakai ketika mereka hendak keluar rumah. Contohnya kerudung yang di sulam dengan benang sutera warna-warni dan ditambah pula dengan perhiasan emas dan perak kerlap-kerlip yang menyilaukan mata.”[32]

3.      KAINNYA HARUS TEBAL (TIDAK TIPIS)

Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali harus tebal. Jika tipis, maka hanya akan semakin memancing fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda: "Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk." Di dalam hadits lain terdapat tambahan : "Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian." [33]
Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang. [34]
Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsannya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qubthiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu!. Seseorang kemudian bertanya: Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidak melihatnya sebagai pakaian yang tipis. Maka Umar menjawab: : Sekalipun tidak tipis, namun ia mensifati (menggambarkan lekuk tubuh). [35]
Atsar di atas menunjukkan bahwa pakaian yang tipis atau yang mensifati dan menggambarkan lekuk-lekuk tubuh adalah dilarang. Yang tipis (transparan) itu lebih parah daripada yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal). Oleh karena itu Aisyah spernah berkata : "Yang namanya khimar adalah yang dapat menyembunyikan kulit dan rambut."
            Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Az-Zawazir telah menulis bab khusus tentang wanita yang mengenakan pakaian tipis, yang masih menampakkan (menggambarkan) warna kulitnya, yang mana hal itu termasuk dosa besar. Kemudian ia menyebutkan hadits diatas, lalu berkata: “ Memasukkan perbuatan tersebut sebagai salah satu dosa besar sudah jelas lantaran perbuatan tersebut di ancam dengan ancaman yang keras. Lagi pula perbuatan tersebut mudah di fahami menyerupai laki-laki.[36]

4.Kainnya harus longgar dan tidak ketat.
     
            Usamah bin Zaid berkata : Pernah Rosulullah memberi saya baju qibthiyyah yang tebal, hadiah dari Dihyah Al. Kalbi. Baju itu pun saya pakaikan pada istri saya. Nabi bertanya kepada saya : Mengapa kamu tidak pernah memakai baju qibthiyyah?, saya menjawab : Baju itu saya pakaikan istri saya, lalu beliau bersabda : “Perintahkan istrimu agar memakai baju dalam ketika memakai baju qibthiyyah, karena saya khawatir baju qibthiyyah itu masih menggambarkan bentuk tulangnya.
            Imam Asy-Syaukani berkata : “Hadits ini menunjukkan wajibnya seorang wanita memakai pakaian yang menutup seluruh badannya dengan pakaian yang tidak menggambarkan bentuk tubuhnya. Ini menjadi syarat dari pakaian yang merupakan penutup aurat.[37]

5.Tidak diberi wewangian dan parfum.
     
            Rosulullah bersabda :
           أيما إمرأة استعطرت فمرت على قوم ليجدوا من ريحها فهي زانية
            "Setiap perempuan yang memakai wewangian, lalu dia lewat dihadapan laki-laki (asing) agar mereka menciumnya, maka dia adalah pezina. [38]
            Rosulullah bersabda :
           إذا شهدت إحداكن إلى المسجد فلا تقربن طيبا
            "Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak kemesjid, maka janganlah ia sekali-kali dia memakai wewangian".[39]
            Ibnu Daqiq Al-‘Ied berkata: “Hadits tersebut menunjukkan haramnya wanita memakai wewangian ketika hendak kemasjid, karena hal itu membangkitkan nafsu birahi laki-laki.
            Imam Al-Haitami berkata: “Keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dan dengan berhias adalah termasuk dosa besar, meskipun suaminya mengizinkan.
            Sebab munculnya larangan tersebut jelas, karena hal itu akan membangkitkan nafsu birahi laki-laki. Hal-hal lain yang biasa dilakukan oleh wanita yang di katagorikan oleh para ulama dapat membangkitkan nafsu adalah: Berpakaian indah, memakai perhiasan yang mencolok mata, memakai asesoris pakaian, dan berbaurnya dengan laki-laki.
            Syaikh Al-Albani menyebutkan: “Bila hal itu (memakai wewangian) diharamkan bagi wanita yang hendak kemasjid, lalu apa hukumnya bagi wanita yang hendak pergi ke pasar atau tempat keramaian lainnya?. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu lebih haram dan lebih besar dosanya.[40]

6.Tidak menyerupai laki-laki.
     
            Dari Abu Hurairoh, ia berkata :
لعن رسول الله صلى الله عليه و سلم الرجل يلبس لبسة المرأة و المرأة تلبس لبسة الرجل
            Rosulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian  laki-laki.[41].
            Abu Dawud juga berkata : Saya pernah bertanya kepada Imam Ahmad, bolehkah seseorang memakaikan sandal jepit kepada anak perempuannya ? Dia menjawab, “Tidak boleh, kecuali dia memakainya untuk berwudhu’. Saya bertanya kalau untuk berhias? Dia menjawab “Tidak boleh”. Saya bertanya lagi, bagaimana kalau dia mencukur rambutnya ( maksudnya : botak) ? Dia menjawab “ Tidak boleh “.[42]
            Imam Adz-Dzahabi memasukkan perbuatan ini sebagai dosa besar, dalam kitabnya Al-Kabair beliau berkata: “Jika seorang wanita memakai pakaian laki-laki, berarti ia telah menyerupai laki-laki, sehingga ia di laknat oleh Allah dan RosulNya. Laknat Allah ini bisa juga menimpa suaminya, bila dia membiarkan dan tidak melarang istrinya melakukan hal seperti itu, karena seorang suami di perintahkan untuk membimbing istrinya agar senantisa taat kepada Allah dan mencegahnya agar tidak melakukan perbuatan maksiat.[43]

7.Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir.
     
            Allah berfirman :
            ولن ترضى عنك اليهود ولن النصارى حتى تتبع ملتهم قل إن هدى الله هوالهدى ولئن اتبعت أهواءهم بعد الذي جاءك من العلم مالك من الله من ولي ولا نصير
            Orang-orang Yahudi dan Nasroni tidak akan ridho kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetehuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolong bagimu.” [44]
            Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam :
          من تشبه بقوم فهو منهم
Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.”[45]
            Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :
            ليس منا من تشبه لغيرنا
Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain golongan kami.[46]
            Syekh Mahmud Mahdi Al-Istambuli dalam kitab Tuhfatul-‘Arus berkata: “Sesungguhnya tasyabbuh (menyerupai) terhadap orang-orang asing (Yahudi dan Nasroni) akan menghilangkan kepribadian seseorang dan meleburnya akstistensi umat. Ini menunjukkan kelemahan umat tersebut karena yang lemah itu akan mengikuti yang kuat. Dan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir dalam berpakaian dan kebiasaan-kebiasaan mereka akan menyeret kita kepada tasyabbuh terhadap pemikiran dan keyakinan-keyakinan mereka.[47]

8.Bukan merupakan pakaian syuhroh (untuk mencari popularitas ).
     
            Muhammad Nashiruddin Al-Albani menjelaskan bahwa yang dimaksud pakaian syuhroh adalah pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas ditengah orang banyak. Baik pakain itu harganya mahal yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan harta dan perhiasannya, maupun pakaian murahan yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya’.”[48]
            Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

            من لبس ثوب شهرة في الدنيا ألبسه الله ثوب مذلة يوم القيامة
            Barangsiapa memakai pakaian untuk mencari ketenaran didunia, maka Allah akan mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada Hari Kiamat kemudian membakarnya dengan api neraka. [49]
            Imam Asy-Syaukani berkata: “Hadits ini menunjukkan haramnya pakaian syuhroh, dan termasuk didalamnya adalah memakai pakaian yang menyelisihi orang-orang fakir supaya orang-orang fakir itu melihat padanya dengan ta’ajub disebabkan pakaianya tersebut, sehingga mereka menghormatinya.”[50]

9.Cadar ( Niqab )
     
            Para Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan hukum cadar. Sebagiaan menyatakan hukumnya wajib, ada yang mengatakan sunnah, bahkan ada yang berpendapat bahwa cadar adalah perbuatan bid’ah dan sikap berlebih-lebihan dalam dien. Pendapat ketiga adalah pendapat bathil yang tidak memiliki landasan syar’i.
            Adapun dua pendapat pertama (yaitu antara yang mewajibkan dan mensunnahkannya), disini akan kami kemukakan beberapa dalil yang di jadikan pijakan oleh para Ulama, dari masing-masing pendapat.[51]

Dalil-dalil yang mewajibkan cadar.

            Allah berfirman :
قل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمورهن على جيوبهن .....
            Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. [52]
            Ibnu Mas’ud berpendapat bahwa yang dimaksud dengan  perhiasan yang biasa nampak dari wanita adalah: “pakaian.”
            Dengan demikian yang boleh nampak dari wanita hanyalah pakaian, karena memang tidak mungkin di sembunyikan.
            Allah berfirman :
ياأيها النبي قل لأزواجك وبناتك ونساء المؤمنين يدنين عليهن من جلابيبهن ذلك أدنى أن يعرفن فلا يؤذين وكان الله غفورا رحيما

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [53]
            Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu berkata: Allah memerintahkan kepada istri-istri kaum mukmin, jika mereka keluar rumah untuk suatu keperluan hendaklah mereka menutupi wajah mereka dengan jilbab dari kepala mereka hingga menampakkan satu mata saja.
            Abu ‘Ubaidah As-Salmani dan lainnya memperaktekkan cara mengulurkan jibab itu dengan selendangnya, yaitu menjadikannya sebagai kerudung, lalu dia menutupi hidung dan matanya sebelah kiri, dan menampakkan matanya sebelah kanan. Lalu dia mengulurkan selendangnya dari atas kepala sehingga dekat kealisnya, atau diatas alis.
            Imam As-Suyuthi berkata: Ayat hijab ini berlaku bagi seluruh wanita, didalam ayat ini terdapat dalil kewajiban menutup kepala dan wajah bagi wanita.
            Syaikh Bakar bin Abu Zaid berkata: Perintah mengulurkan jilbab ini meliputi menutup wajah berdasarkan beberapa dalil :
1. Makna jilbab dalam bahasa Arab adalah : Pakaian longgar yang menutupi seluruh badan. Dan seorang wanita wajib memakai jilbab itu pada pakaian luarnya dari ujung kepalanya turun sampai menutupi wajahnya, segala perhiasannya dan seluruh badannya sampai menutupi kedua ujung kakinya.
2. Yang biasa nampak pada sebagian wanita jahiliyyah adalah wajah mereka. Maka Allah perintahkan istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam serta istri-istri orang mukmin untuk mengulurkan jilbabnya ketubuh mereka. Kata idna yang ditambahkan huruf ‘ala mengandung makna mengulurkan dari atas. Maka jilbab itu diulurkan dari atas kepala menutupi wajah dan badan.
3. Menutupi wajah, baju dan perhiasan dengan jilbab itulah yang difahami oleh wanita-wanita Shahabat.
4. Dalam firman Allah : Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah intuk dikenal, dan karena itu mereka tidak diganggu. “Menutup wajah wanita merupakan tanda bahwa wanita tersebut adalah wanita baik-baik, dengan demikian tidak diganggu. Demikian juga jika wanita menutupi wajahnya, maka laki-laki yang rakus tidak akan berkeinginan untuk membuka anggota tubuhnya yang lain. Maka membuka wajah bagi wanita merupakan sasaran gangguan dari laki-laki jahat. Dan dengan menutupi wajahnya, seorang wanita tidak akan memikat dan menggoda laki-laki sehingga dia tidak akan diganggu.
   5. Aisyah berkata :
Para pengendara kendaraan biasa melewati kami disaat kami (para wanita) berihram bersama-sama Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Maka jika mereka mendekati kami, salah seorang  dari kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya pada wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, kami membuka wajah. [54]
6. Asma’ binti Abu Bakar berkata: Kami menutupi wajah kami dari laki-laki, dan kami menyisir rambut sebelum itu disaat ihram. [55]
Ini menunjukkan bahwa menutup wajah bagi wanita sudah merupakan kebiasaan para waniata Shahabat.

            Allah berfirman :
وليضربن بخمورهن على جيوبهن .....
            Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung (khumur) mereka kedada (dan leher) mereka. [56]
            Syaikh Al-Utsaimin berkata :Berdasarkan ayat ini wanita wajib menutupi dada dan lehernya. Kalau menutupi dada dan lehernya saja wajib, maka menutup wajah lebih wajib lagi karena wajah adalah tempat kecantikan dan godaan. Bagaimana mungkin agama yang bijaksana ini memerintahkan wanita menutupi dada dan lehernya, tetapi membolehkan membuka wajah.
            Allah berfirman :
           ولايضربن بأرجلهن ليعلم مايخفين من زينتهن
            Artinya : Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. [57]
            Allah melarang wanita menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasannya yang dia sembunyikan, seperti gelang kaki dan sebagainya. Hal ini kerena di khawatirkan laki-laki akan tergoda gara-gara mendengar suara gelang kakinya dan semacamnya. Maka godaan yang ditimbulkan karena memandang wajah wanita cantik, lebih besar daripada sekedar mendengar suara gelang kaki wanita. Sehingga wajah wanita lebih pantas untuk ditutup untuk menghindarkan kemaksiatan.
            Aisyah Radhiyallahu 'Anha berkata : “Mudah-mudahan Allah merahmati wanita-wanita Muhajirin, dimana ketika turun ayat : Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada (keleher) mereka ( S. An-Nuur : 31), mereka merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.[58]
            Ibnu Hajar berkata :Perkataan “lalu mereka berkerudung dengannya“, maknanya adalah mereka menutupi wajah mereka.
            Inilah ringkasan dalil-dalil para Ulama’ yang mewajibkan hijab. Dan diantara para Ulama zaman ini yang merajihkan pendapat ini (mewajibkan cadar) adalah Syeikh Muhammad As-Sinqithi, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin, Syeikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrohim Al-Jarullah, Syeikh Bakar Abu Zaid, Syeikh Musthofa Al-Adawi dan para Ulama lainnya.

Dalil-dalil yang tidak mewajibkan cadar.
     
            Allah berfirman :
قل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمورهن على جيوبهن
            Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. [59]
            Tentang perhiasan yang biasa nampak, Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud adalah wajah dan telapak tangan.
            Berdasarkan penafsiran Shahabat ini jelas bahwa wajah dan telapak tangan wanita boleh kelihatan, sehingga bukan merupakan aurat yang wajib di tutup.
            Allah berfirman :
            وليضربن بخمورهن على جيوبهن
Dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedada (keleher) mereka.[60]
            Ibnu Hazm Rahimahullahu berkata :Allah Ta’ala memerintahkan para wanita menutup khimar (kerudung) pada belahan-belahan baju (dada dan lehernya), maka ini merupakan nash untuk menutupi aurat, leher dan dada. Dalam ayat ini juga terdapat nash bolehnya membuka wajah, tidak mungkin selain itu.
            Rosulullah bersabda kepada Ali Radhiyallahu 'Anhu : Wahai Ali, janganlah engkau turutkan pandangan (pertama) dengan pandangan (kedua), karena engkau berhak pada pandangan pertama, tetapi tidak berhak pada pandangan kedua. [61]
            Jarir bin Abdullah berkata : Aku bertanya kepada Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tentang pandangan tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau bersabda : “Palingkan pandanganmu “.[62]
            Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: Dalam hadis diatas terdapat hujjah bahwa wanita tidak wajib menutup wajahnya dijalan, tetapi hal itu adalah sunnah yang disukai. Dan yang wajib bagi laki-laki ialah menahan pandangan dari wanita dalam segala keadaan, kecuali untuk tujuan yang syar’i. Hal itu di sebutkan oleh Imam An- Nawawi dan beliau tidak menambahinya.
            Jabir bin Abdullah berkata: “Aku menghadiri shalat hari ‘ied bersama Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah, dengan tanpa adzan dan iqomat. Kemudian beliau bersandar pada Bilal, maka beliau memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah dan mendorong untuk mentaatiNya. Beliau menasehati dan mengingatkan orang banyak. Kemudian beliau berlalu sampai mendatangi para wanita, lalu beliau menasehati dan mengingatkan mereka. Beliau bersabda: “Hendaklah kalian bersedekah, karena mayoritas kalian adalah bahan bakar neraka jahannam. Maka berdirilah seorang wanita dari tengah-tengah mereka, yang pipinya merah kehitam-hitaman, lalu bertanya, “Mengapa demikian wahai Rosulullah?”. Beliau bersabda: “Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari (kebaikan) suami.” Maka para wanita itu mulai bersedekah dengan perhiasan mereka, yang berupa giwang dan cincin, mereka melemparkan pada kain Bilal. [63]
            Hadits ini jelas menunjukkan wajah wanita bukan aurat, yakni bolehnya wanita membuka wajah. Sebab jika tidak, pastilah Jabir tidak dapat menyebutkan bahwa wanita itu pipinya merah kehitam-hitaman.
            Ibnu Abbas berkata : Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memboncengkan Al-Fadhl bin Abbas……kemudian beliau berhenti memberi fatwa kepada orang banyak. Datanglah seorang wanita yang cantik dari suku Khats’am dan meminta fatwa kepada Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Mulailah Al-Fadhl melihat wanita tersebut, dan kecantikannya mengagumkannya. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun berpaling, tetapi Al-Fadhl tetap melihatnya. Maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memundurkan tangannya dan memegang dagu Al-Fadhl, kemudian beliau memalingkan wajah Al-Fadhl dari melihatnya……. [64]
            Ibnu Hazm Rohimahullah berkata : “Seandainya wajah wanita merupakan aurat yang wajib ditutupi, tidaklah beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam membenarkan wanita tersebut membuka wajahnya dihadapan orang banyak. Pastilah Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan wanita itu untuk menurunkan (jilbabnya) dari atas (kepala untuk menutupi wajah). Dan seandainya wajahnya tertutup, tentulah Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu tidak mengetahui wanita itu cantik atau buruk.”
            Maka hadits ini menunjukkan bahwa cadar tidaklah wajib bagi wanita, walaupun dia memiliki wajah yang cantik, tetapi hukumnya adalah disukai (sunnah).
            Al-‘Alamah Al-Albani berkata : Anggapan terjadinya Ijma’ tentang wajah dan telapak tangan merupakan aurat yang wajib ditutup, tidaklah benar. Bahkan telah terjadi perselisihan diantara Ulama. Pendapat tiga Imam (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafi’I), menyatakan bukan sebagai aurat. Ini juga merupakan satu riwayat dari Imam Ahmad. Diantara Ulama besar madzhab Imam Hanbali yang menguatkan pendapat ini ialah dua Imam, yakni Ibnu Qudamah dan Imam Ibnu Muflih. Ibnu Qudamah Rohimahullah berkata dalam Al. Mughni: “Karena kebutuhan dalam rangka jual beli terkadang mendorong seseorang untuk membuka wajahnya, demikian juga membuka telapak tangan untuk mengambil dan memberi.
            Inilah ringkasan dalil-dalil para Ulama’ yang tidak mewajibkan cadar. Sehingga dapat disimpulkan : “Dalil- dalil yang disebutkan oleh para Ulama’ yang mewajibkan cadar begitu kuat, menunjukkan kewajiban wanita untuk berhijab (menutup wajah) dan berjilbab serta menutupi perhiasannya secara umum. Dalil-dalil yang disebutkan oleh para Ulama’ yang tidak mewajibkan cadar begitu kuat, menunjukkan wajah dan telapak tangan wanita, bukan aurat yang wajib ditutup. ” Wallahu A’lam.
      Demikianlah diantara kriteria pakaian muslim dan muslimah yang disebutkan oleh para Ulama berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Tasyabuh dalam berpakaian.

            Hukum tasyabbuh kepada orang-orang kafir dalam perbuatan, perkataan, pakaian, kebiasaan dan hari-hari raya mereka hukumnya haram. Maka menghindari dan menjauhinya adalah tuntutan aqidah dan bara’ (berlepas diri) terhadap mereka, sehingga berlepas diri darinya adalah jalan keselamatan dari syubhat dan fitnah yang besar.[65]
            Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda :
           من تشبه بقوم فهو منهم
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk  golongan mereka” [66]
            Syaikh Muhammad bin Sa’id bin  Salim Al-Qohtoni berkata : “Hadits ini bukan sekedar isyarat dalam batasan etika saja, tetapi ia merupakan ungkapan kongkrit yang menunjukan bahwa disana tidak ada jalan keluar bagi kaum muslimin untuk tidak terpengaruh oleh peradaban yang ditirunya.
      Bila ada orang muslim berbicara tentang pakaian orang-orang eropa, tradisi dan mode kehidupan mereka, maka secara otomatis ia menyatakan dirinya telah terpengaruh peradaban eropa, walaupun ia mengeluarkan pernyataan dalam bentuk apapun. Secara praktis sungguh mustahil andaikata ia meniru peradaban asing dalam tujuan penalaran dan kreatifitasnya tanpa merasa kagum terhadap ruhnya. Sungguh tidak mungkin ia kagum terhadap ruh peradaban asing yang juga membangkitkan trend agama, lalu ia tetap bertahan sebagai orang muslim yang benar.[67]
            Tetapi perlu digaris bawahi bahwa disana ada kondisi tertentu, yang menjadikan orang-orang muslim boleh berkolaborasi dengan orang-orang kafir dalam satu urusan tertentu. Lalu kapankah harus ada kesesuaian dan kapankah harus ada pertentangan?
            Maka hendaknya kaum muslimin berhati-hati dalam menentukan batasan-batasan tasyabbuh terhadap mereka. Setidaknya ada tiga hal yang telah di rangkum oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang harus kita perhatikan.
1.      Apa yang telah disyari’atkan dalam dua syari’at (sesuatu yang disyari’atkan bagi kita dan mereka juga mengerjakannya), maka pembuat syariat (Allah) telah membatasinya dengan menyelisihi mereka dari sifatnya. Seperti puasa tasu’a, puasa a’syura, perintah sholat, menyegerakan berbuka serta mengakhirkan sahur, hal ini untuk menyelisihi orang-orang Ahli Kitab. Sebagaimana kita diperintahkan sholat dengan memakai sandal, hal ini juga untuk menyelisihi orang-orang kafir. Maka menyerupai mereka terhadap hal-hal ini bisa jadi hanya makruh saja.
2.      Sesuatu yang pernah di syari’atkan, kemudian di naskh (dihapus) secara total, seperti pengharusan ibadah pada hari sabtu, maka penyerupaan terhadap mereka dalam hal ini tidak di sembunyikan. Oleh sebab itu, menyerupai orang-orang kafir dalam suatu ibadah yang telah di naskh (telah dihapus hukumnya) oleh Allah dan RosulNya, adalah merupakan bentuk keharaman yang mutlak.
3.      Ibadah, tradisi, atau kebiasaan-kebiasaan yang mereka ciptakan sendiri. Maka menyerupai mereka dalam hal-hal ini sangat haram. Apabila ibadah atau kebiasaan-kebiasaan itu, yang menciptakan adalah orang-orang Islam (dimana didalamnya tidak ada petunjuk dari Nabi Muhammad), ini merupakan perbuatan bid’ah dan mengikutinya adalah suatu bentuk keburukan (kesesatan), maka bagaimana bila ibadah-ibadah dan kebiasaan-kebiasaan itu di ciptakan (dibuat) oleh orang-orang kafir ? jelas penyerupaan dalam masalah ini adalah sangat parah..

 Kriteria tasyabbuh dalam berpakaian.

            Diantara kriteria-kriteria pakaian yang tergolong dalam katagori tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, adalah sebagai berikut :
            1. Libas Mu’ashfar (pakaian yang di celup dengan warna kuning)
            Dari Abdullah bin Amru bin Ash berkata :
            رأى رسول الله صلى الله عليه و سلم علي ثوبين معصفرين, فقال : إن هذه من ثياب الكفارفلا تلبسها
            Rosulullah pernah melihat saya memakai dua kain yang di celup warna kuning. Maka beliau bersabda: “Sunguh ini adalah pakaian orang-orang kafir, oleh karena itu janganlah kamu memakainya. [68]
            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Nabi menjelaskan alasan dibalik larangan memakai pakaian tersebut karena pakaian tersebut merupakan pakaian orang-orang kafir, dan beliau tidak peduli apakah pakaian tersebut memang menjadi pakaian mereka didunia ataukah pakaian yang biasa mereka pakai.[69]
            Imam Nawawi berkata: “Para Ulama berbeda pendapat tentang pakaian “mu’ashfar” (yang dicelup dengan warna kuning) :
1.      Jumhur Ulama dari kalangan para Shahabat, Tabi’in dan orang-orang sesudahnya membolehkan pakaian “mu’ashfar”.
2.      Imam Syafi’i, Abu Hanifah, dan Imam Malik membolehkan pakaian “mu’ashfar” akan tetapi memakai selain itu lebih utama. Dalam riwayat yang lain Imam Malik membolehkan pakaian “mu’ashfar” didalam rumah dan dibenci didalam perayaan, pasar dan selainnya.
3.      Sekelompok dari Ulama berpendapat bahwa pakaian “mu’ashfar” hukum memakainya  adalah Karohatun Tanzih (makruh).
            Imam Al-Baihaqi berkata : pendapat yang melarang memakai pakaian mu’ashfar adalah lebih tepat untuk diikuti.[70]

            2. Setiap Pakaian Yang Menampakkan Aurat.
            Diantara hikmah Allah menurunkan dan menciptakan pakaian adalah menutup aurat kita.
            Allah berfirman :
            يبنى ءادم قد أنزلنا عليكم لباسا يوارى سوءاتكم وريشا ولباس التقوى ذلك خير ذلك من ءايت الله لعلهم يذكرون
            Artinya : “ Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik. Yang demikian itu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Mudah-mudahan mereka selalu ingat. [71]
            Ibnu Katsir berkata : “Allah telah menurunkan karuniaNya kepada para hambaNya dengan menciptakan bagi mereka pakaian dan perhiasan. Pakaian digunakan untuk menutup aurat atau aib yang tidak boleh terlihat pada tubuh manusia. Sementara risy adalah perhiasan untuk mempercantik diri. Yang pertama merupakan kebutuhan primer sedangkan yang kedua adalah sekedar pelengkap dan tambahan saja. Adapun pakaian taqwa adalah keimanan kepada Allah, rasa takut kepadaNya, serta amal sholih dan akhlaq yang baik.[72]
            Oleh karenanya setiap pakaian yang menampakkan aurot dihukumi haram dan termasuk kategori tasyabbuh kepada orang-orang kafir.

            3. Pakaian yang dipakai karena meniru dan bangga terhadap orang-orang kafir.
            Pakaian jenis ini merupakan pakaian yang membahayakan aqidah seorang muslim. Bagaimana tidak, seorang muslim memakai pakaian, meniru gaya hidup dan penampilan dari idolanya yang jelas-jelas orang kafir, baik dari pemain sepak bola, pembalap, artis dan para bintang film.
            Allah berfirman :
            باأبها الذين آمنوا لا تتخذوا بطانة من دونكم لا يعلونكم خبالا ودوا ما عنتّم قد بدت البغضاء من أفواههم وما تخفي صدورهم أكبر قد بينا لكم الآيات إن  كنتم تعقلون
            Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudhoratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat kami, jika kamu memahaminya. [73]
            Dari Anas bin Malik :
            أن رجلا سأل النبي صلى الله عليه و سلم :" متى الساعة يا رسول الله ؟ قال :" ما أعددت لها  ؟" قال :" ما أعددت من كثير صلاة ولا صوم ولا صدقة ولكني أحب الله ورسوله" قال :" أنت مع من أحببت"
            “Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rosulullah, kapankah hari kiamat itu ya Rosululah?.Rosulullah bertanya kepada orang tersebut: “Apa yang telah kamu persiapkan untuknya? “Lelaki itu menjawab : Aku tidak mempersiapkan untuknya dengan banyak sholat, puasa dan tidak pula banyak shadaqah. Tetapi aku mencintai Allah dan RosulNya. Maka beliau bersabda : “Kamu akan dibangkitkan bersama siapa yang kamu cintai “. [74]
            Syaikh Abul Ula Muhammad bin Abdurrohman Al-Mubarokfury berkata: “Seseorang akan dibangkitan bersama siapa yang ia cintai dan akan menjadi  temannya, apakah yang dicintainya itu orang sholih atau orang tholih (jahat). Dan di dalam riwayat Muslim dari Anas bin Malik : “Walaupun ia belum (tidak) mengikuti perbuatan mereka.[75]
            Dari sini jelaslah mencintai seseorang atau mencintai suatu kaum, apakah ia sholih, tholih (jahat) atau kafir, maka kita akan dibangkitkan bersama mereka pada hari kiamat, walaupun kita tidak melaksanakan perbuatan mereka.

            4. Memakai sepatu bertumit tinggi.
            Memakai sepatu bertumit tinggi merupakan perbuatan tasyabbuh terhadap orang-orang kafir, selain itu juga akan membawa madhorot bagi pelakunya dan juga merupakan berhias ala jahiliyyah.
            Syaikh Al. Utsaimin berkata : “Sandal (sepatu) yang tinggi tidak boleh dikenakan diluar batas kebiasaan dan mengarah kepada berhias ala jahiliyyah, membuat wanita semakin tenar dan memalingkan pandangan manusia kearahnya”.
            Lajnah Ad-Daimah Wal Ifta’ mengeluarkan fatwa bahwa mengenakan sepatu bertumit tinggi dilarang, karena dapat menyebabkan wanita terjatuh. Selain itu, sepatu model semacam itu juga memproyeksikan tubuh wanita menjadi lebih tinggi dari yang sesungguhnya. Yang demikian itu termasuk memanipulasi (membohongi) dan termasuk menampakkan perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan pada diri wanita muslimah.

            5. Segala bentuk perhiasan yang diadopsi dari orang-orang kafir.
            Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak melarang hamba-hambanya, baik laki-laki maupun wanita untuk berhias dan mempercantik diri.
Allah berfirman :
            قل من حرم زينة الله التى أخرج لعباده والطيبت من الرزق قل هي للذين ءامنوا فى الحيوة الدنيا خالصة يوم القيامة كذلك نفصل الأيت لقوم يعلمون
            Artinya : Katakanlah! Siapa yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang dikeluarkan untuk hamba-hambanya, dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik. Katakanlah ! Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. [76]
            Rosulullah bersabda :
            إن الله جميل يحب الجمال
Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. [77]
            Namun apabila perhiasan tersebut merupakan perhiasan jahiliyyah yang diadopsi dari orang-orang kafir, maka hal ini jelas bertentangan dengan syari’at islam. Maka sesuatu yang bertentangan dengan syari’at islam adalah haram untuk diikuti.
.
            6. Pakaian yang bergambar.
            Pakaian-pakaian yang di dalamnya terdapat gambar-gambar yang bernyawa, maka hal ini telah diharamkan oleh Allah dan RosulNya.
            Rosulullah bersabda :
          أشد الناس عذابا يوم القيامة الذين يضاهؤن بخلق الله
            Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaanya di hari kiamat adalah orang-orang yang membuat gambar (menyerupai) makhluk Allah. [78]
            Dalam hadis lain disebutkan:
           كل مصور في النار يجعل له بكل صورة صورها نفس يعذب بها في جهنم
            Setiap penggambar akan di masukkan kedalam neraka, dan akan di beri nyawa setiap gambar yang dibuatnya untuk mengazabnya di dalam neraka jahannam. [79]
 Wallohu a'lam bis showab.

Daftar pustaka

1.      Tafsir At Tobari, Ibnu Jarir At Tobari, darul Fikr Beirut, 1421 H
2.      Tafsir Qur’an Al Adzim, Abul Fida’ Ismail bin Katsir, Maktabah Ashoshoh Beirut, 1420 H
3.      Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, 1418 H
4.      Iqtidha’ As Shirathil Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Darul Ma’rifah, Beirut
5.      I’lamul Muwaqiin, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Darr Al Jail Beirut
6.      Al Masailul Lati Kholafa Fiha Rasulullah Ahlal Jahiliyyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Darr Al Muayyad, 1416 H
7.      Al Kabair, Imam Syamsudin bin Ahmad Adz Dzahabi. Maktabah Dar Al Bayan. Damaskus
      1412 H.
8.      Tuhfatul ‘Arus, Mahmud Mahdi Al- Istambuli, Maktab Al Islami Beirut, 1407 H
9.      Ja’miul Ulum Wal Hikam, Abul Faraj Abdur Rohman Syihabuddin Al Baghdadi, Muassasah Ar Risalah Beirut, 1419 H
10.  Al Wafi Syarh Hadits Arbain, Dr Mustofa Al Bugho & Muhyiddin Mistu, Maktabah Darr At Turots, 1413 H
11.  Al Isti’anah Bighoiril Muslim, Dr Abdullah bin Ibrahim bin Ali At Turoiqi, 1409 H
12.  Al Madkhol Lid Dirosatil Aqidah Al. Islamiyyah, Dr. Ibrohim bin Muhammad Al. Buraikan.
13.  Rossail At Taujihat Al Islamiyah, Muhamamd bin Jamil Zainu, Darr As Shomai’iy Riyadh,
      1417 H
14.  Risalah Ila ‘Askari, Abu Abdur Rohman Al Atsari, 1422 H
15.  Belenggu Nafsu, Ibnu Jauzi, Pustaka Azzam, 1413 H
16.  Jilbab Wanita Muslimah, Muhammad Nashiruddin Al Albani, Media Hidayah, 2002 M
17.  Indahnya Berhias, Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid, Darul Haq, 2000 M
18.  Tabarruj Dosa Yang Dianggap Biasa, Abdul Aziz Bin Abdullah bin Baz, Pustaka Al Haura, 2003.



[1]. Lisanul Arab, Juz VI hal : 202.
[2]. Al. Munjid, hal 711.
[3]. Majmu’ah Rosa’ilit Taujiihat, Juz I hal : 371.
[4] QS. Al. A’rof : 32
[5]. Fathul Baari, Juz XI hal : 423.
[6]. Tafsir Jami’ul Bayan, Juz V hal : 186.
[7] HR. Muslim
[8]. Shohih Muslim Syarh An. Nawawi, Juz IV hal : 30.
[9]. Ibid, hal 28.
[10]. Ibid, hal 27.
[11]. Selengkapnya baca kitab “Belenggu Nafsu, Imam Ibnul Jauzi” bab, Larangan melihat dan bergaul dengan Amrod
[12] Al Mudatsir :4
[13] HR. Abu Dawud
[14] HR. Bukhori
[15] HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah
[16] HR. Muslim
[17] Majmu’ Fatawa, Juz XXII hal : 144.
[18]. Majmu’ Rosa’il, Juz I hal :367.
[19]. Fathul Baari, Juz XI hal : 431.
[20] Majmu’ Rosa’il Juz 1 hal 367
[21] HR. Ahmad
[22] HR. Al. Bukhari, Abu Dawud, Ad. Darimi dan Ahmad
[23] HR. Abu Dawud dan Ahmad
[24]. HR. Ahmad dan di hasankan oleh Al. Albani , Lihat penjelasannya pada “ Kriteria pakaian wanita” setelah bab ini.
[25] QS. An. Nuur : 31
[26] QS. Al. Ahzab : 59
[27]. Tafsir Ibnu Katsir, Juz III hal : 266.
[28]. Tafsir Jami’ul Bayan, Juz X hal : 142-143.
[29] QS. Al. Ahzab : 33
[30] HR. Al Hakim dan Ahmad
[31]. Jilbab Mar’atil Muslimah, hal : 142. 
[32]. Ibid, hal : 144.
[33] At-Thabrani dalam Al-Mujam As-Shaghir hal. 232; Hadits lain tersebut dikeluarkan oleh Muslim dari riwayat Abu Hurairah. Lihat Al-HAdits As-Shahihah no. 1326
[34] Dikutip oleh As-Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik III/103
[35] Riwayat Al-Baihaqi II/234-235; Muslim binAl-Bitthin dari Ani Shalih dari Umar
[36]. Ibid, hal : 153.

34. Nailul Author, Juz II hal : 115.
[38] HR. An. Nasa’I, Abu Dawud, Ahmad, At. Tirmidzi dan Al. Hakim
[39] HR. Muslim
35. Ibid, hal : 169.
[41] HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad
[42]. Ibid, hal: 179.
[43] Al. Kaba’ir,  hal : 67.
[44] QS. Al Baqarah:120
[45] HR. Abu Daud dan Ahmad
[46] HR At Tirmidzi dan dihasan kan oleh Al Albani
[47] Tuhfatul Arus.Hal 366.
[48] Jilbab Mar’ah Muslimah.Hal 257.
[49] HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad
[50] Nailul Author Juz II Hal 111.
[51] Masalah ini kami nukil dari “ Majalah As-Sunnah “ edisi 05 dan 06 / VI / 1423 H - 2003 M.
[52] QS. An-Nuur : 31
[53] QS. Al. Ahzab : 59
[54] HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah
[55] HR. Ibnu Khuzaimah dan Al. Hakim
[56] QS. An-Nuur : 31
[57] QS. An-Nuur : 31
[58] HR. Bukhari, Abu Dawud
[59] QS. An-Nuur : 31
[60] QS. An-Nuur: 31
[61] HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan di hasankan oleh Al-Albani
[62] HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi
[63] HR. Muslim
[64] HR. Bukhari dan Muslim
[65] Lihat penjelasannya dalam Kitab Al Wala’ Wal Bara’ Hal 321-326.
[66] HR Abu Daud dan Ahmad
[67]  Al Wala’ wal Bara’ Hal 321.
[68] HR. Muslim dan An. Nasa’I
[69] Jilbab Wanita Muslimah, hal :
[70] Shohih Muslim, Syarh An. Nawawi, Zuj XIV  hal : 46-47
    Mu’ashfar adalah warna sangat kuning  sekali.
[71] QS Al. A’rof : 26
[72] Tafsir Ibnu Katsir, Juz II hal : 192-193.
[73] QS Ali Imron 118
[74] HR. Muslim
[75]Tuhfatul Ahwadzi, Juz VII hal : 88-91.
[76] QS. Al. A’rof : 32
[77] HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad
[78] HR. Bukhari dan Muslim
[79] HR. Bukhari dan Muslim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar